Siswa SMA Sederajat Dapat BOS Rp.1 Juta Per Siswa

30 Jul 2013

TOBASA, halahita. Oleh : Aristo Panjaitan, SS.SPd

Pelajar siswa sekolah menengah (SMA sederajat) negeri dan swasta seluruh Indonesia khususnya di Tobasa boleh bernapas lega, karena mulai tahun ajaran baru 2013/2014 ini pemerintah telah memberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS) sebesar Rp 1 juta per siswaper tahun.

Penyaluran dana BOS ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Pendidikan Menengah Universal (PMU) yang resmi diluncurkan Mendikbud Mohammad Nuh di Kemdikbud, pada Selasa, 25/6/2013.

Demikian disampaikan Ketua LSM Tim Operasional Pengawasan Pembangunan Pendidikan Indonesia (TOP-P2I) Kabupaten Toba Samosir, Hotmei Sinurat kepada halakhita Selasa (30/7) di Balige, dengan mengulangi pernyataan Mendikbud, M Nuh saat peluncuran Pendidikan Menengah Universal (PMU) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

Lembaga yang membidangi Pendidikan ini menilai, Pemerintah Kabupaten Toba Samosir selama ini dituding minim atau kurang mensosialisasikan adanya dana BOS untuk tingkat SLTA sederajat. Sebab sekolah SMA/SMK Negeri di Tobasa masih saja berupaya memungut biaya SPP yang tergolong memberatkan orangtua siswa.

Seperti yang dikeluhkan sejumlah orangtua siswa SMK N 1 di Laguboti, hari ini (30/7) mereka diundang pihak sekolah untuk membicarakan apa-apa saja yang menjadi kewajiban anak-anak mereka di sekolah tersebut.

Kami diundang pihak sekolah dan komite sekolah hari ini untuk membicarakan kewajiban yang harus dibayar di sekolah itu. Informasinya, pihak sekolah akan memungut uang SPP dari siswa Rp.75.000/bulan, ujar salah seorang orang tua siswa yang mengaku br Pangaribuan, kepada halakhita Selasa (30/7) pagi di lokasi sekolah SMK N 1 Laguboti.

Br Pangaribuan mengatakan, sedangkan tahun lalu pihak sekolah hanya memungut uang SPP Rp.25.000 /bulan/siswa, seraya menuding, setelah kepala sekolah SMKN 1 Laguboti yang saat ini digantikan marga Siahaan beban orangtua semakin bertambah.

Senada dikatakan orangtua siswa yang mengaku marga Tambunan ini, dia sudah mendengar telah dikucurkan dana BOS untuk SMA. Bagaimana sebenarnya dana BOS untuk SMA itu, kenapa pemerintah masih memungut uang dari siswa?. Lucunya, semakin bertambah pula rencananya yang akan dipungut. Kalau sekedar untuk membantu kami pun relanya, ini rencanya akan dipungut Rp.75.000 per siswa, timpalnya dengan berbahasa batak.

Terpisah, Kepala SMK N 1 Laguboti, Tigor Siahaan ketika dikonfirmasi melalui Short Massage Service (SMS) tentang kesimpulan rapat penentuan biaya SPP atau BP3 di SMK N 1 Laguboti antara orang tua siswa, Komite sekolah dengan pihak sekolah yang dilaksanakan pagi tadi, namun tidak dibalas.

Kadis Pendidikan Tobasa Mariani Simorangkir ketika dikonfirmasi melalui Short Massage Service (SMS) sejauh mana Pemkab atau Diknas Tobasa dalam mensosialisasikan kepada masyarakat atau orangtua siswa telah dikucurkannya dana BOS untuk SMA sederajat Rp.1 juta per siswa per tahun, namun tidak dibalas.

BOS Daerah Harus Ada

Pemerintah Kabupaten/Kota semestinya menyediakan dana bantuan operasional sekolah (BOS) daerah yang bersumber dari APBD Tobasa.Dana BOS daerah itu dibutuhkan untuk menambah BOS dari pemerintah pusat atau menutupi biaya yang dibutuhkan di sekolah tersebut. Dana BOS daerah yang dimaksud untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan murah.

“Untuk pendidikan menengah, karena sudah ada dana BOS, sekolah harus seminim mungkin menarik dana dari masyarakat. Itu bisa terwujud jika bupati menyediakan BOS daerah di APBD. Itu harus dilaksanakan,” Ketua LSM TOP P2I Kabupaten Toba Samosir, Hotmei Sinurat dengan melansir pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh.

Tujuanbantuan operasional sekolah (BOS) daerah ada di APBD, lanjut Hotmei, supaya masyarakat tidak terlalu dibebani membiaya anak-anaknya sekolah hingga ke jenjang SLTA. Sehingga tidak ada lagi warga Tobasa yang mengalami putus sekolah hanya karena ketiadaan biaya, tandas aktivis yang peduli pendidikan ini.

Tapi, sambung Hotmei, dia menilai Pemkab Tobasa sepertinya tidak mempunyai niat baik untuk memperhatikan dunia pendidikan yang bermutu, dan murah, sebab sesuai amatan mereka selama ini, di mana-mana pihak sekolah selalu membebani siswa dari segala pungutan dengan berbagai modus.

Pihaknya sangat menyayangkan, masih ada anak di Tobasa yang putus sekolah karena ketiadaan biaya atau factor ekonomi orangtuanya yang ngos-ngosan


TAGS


-

Author

Follow Me