Sekolah di Tobasa Mendidik Masih Menggunakan Kapur

30 Jul 2013

TOBASA, halakhita. Oleh : Aristo Panjaitan, SS.SPd

Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Toba Samosir Kasih Peduli dan Bermartabat dalam bidang Pendidikan tampaknya jauh panggang dari api, pasalnya, zaman sudah berubah, zaman teknologi, zaman tab, dan zaman teknologi infromasi. Dana Operasional Pendidikan yang dikucurkan pemerintah saat ini tergolong sudah mencukupi. Sekolah di Tobasa masih menggunakan papan tulis hitam dan kapur tulis. Menyedihkan.

Demikian dikatakan Aristo Panjaitan, SS. SPd, mantan guru SMA yang pernah mengabdi selama 9 tahun di Tobasa ini, kepada halakhita Selasa (30/7) di Balige.

Bahkan boleh dikatakan, kata Aristo Panjaitan, mendidik menggunakan white board (menulis pakai spidol) sudah mulai ketinggalan di beberapa daerah dengan beralih ke infokus, slide maupun labtop, tapi kemajuan zaman itu sepertinya tak berlaku bagi sekolah-sekolah di Tobasa yang masih menggunakan media pembelajaran papan tulis hitam dan kapur tulis.

Sepertinya Institusi pendidikan di Tobasa tidak membutuhkan kebutuhan, keperluan, dan kesehatan siswa dan gurunya. Realitanya, guru-guru dalam proses belajar mengajar masih menggunakan media papan tulis hitam dan alat tulis dari kapur, tandasnya.

Dikatakannya, media papan tulis hitam dan kapur tulis sudah tidak zamannya lagi dalam proses belajar mengajar saat ini. Media papan tulis hitam dan kapur digunakan pada zaman baholak (dulu) karena hanya media itulah yang ada saat itu.

Saat ini tidak perlu dan tidak zamannya lagi digunakan, menyangkut masalah kesehatan guru dan murid juga perlu diperhatikan, ujar pria 38 tahun ini.

Mantan guru bidang study bahasa Indonesia ini menambahkan, dengan menggunakan kapur tulis memang lebih hemat daripada menggunakan spidol papan. Namun dengan menggunakan kapur tulis banyak orang mengalami sesak nafas yang berujung dengan batuk-batuk.

Namun persoalannya saat ini bukan masalah segi hematnya, keterbatasan medianya, karena sudah ada dana BOS. Tidak ada alasan karena ketiadaan dana, karena pemerintah telah mengucurkan dana BOS mulai dari tingkat SD, SMP hingga SLTA, sebut Aristo Panjaitan.

Aktivis bidang pendidikan ini menilai, hal ini kembali kepada Pemerintah atau niat baik dari birokrat pendidikan itu sendiri. Saya pikir niat baik mereka untuk memajukan dunia pendidikan di Tobasa selama ini tidak ada, katanya.

Lanjutnya, beberapa hari lalu ketika dia berkunjung ke SDN di Sitorang Kecamatan Silaen, pengakuan guru-guru tersebut pernah mereka usulkan kepada Kepala Sekolahnya agar mengganti media Papan tulis hitam yang mereka gunakan selama ini menjadi media spidol papan (white Board), namun tidak ditanggapi kepala sekolahnya.

Seharusnya, sambung Aristo Panjaitan, dengan kemajuan zaman saat ini harus dapat diseimbangkan dengan sarana dan prasaranapendidikan saat ini.


TAGS


-

Author

Follow Me