Putra Toba dan Putra Dairi Penerima Kalpataru dari Presiden

30 Jul 2013

Berniat Kembalikan Kalpataru

Tobasa, halakhita. Oleh : Aristo Panjaitan, SS.SPd

Marandus Sirait dan Hasoloan Manik, penerima Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan Hidup tahun 2010 berniat mengembalikan penghargaan lingkungan hidup itu karena kecewa dan geram menyaksikan hutan di sekitar mereka habis dibabat oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Kedua tokoh penerima kalpataru dari Presiden ini, juga kecewa terhadap pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah daerah yang dinilai tidak peduli lagi dengan kondisi hutan dan lingkungan yang kian kritis saat ini.

Demikian disampaikan Marandus Sirait selaku pemilik Taman Eden 100 Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir dan Ketua DPD LSM Peduli Lingkungan Hidup (LSM-PILIHI) Kabupaten Pakpak Barat Hasoloan Manik kepada halakhita Minggu (21/7).

Awal Agustus 2013 ini, kami akan mengadakan konfrensi Pers di Medan untuk acara pengembalian piagam Kalpataru dan piala Wanalestari yang diterima tahun 2010 lalu, kepada Menteri Kehutanan RI, kata Marandus Sirait via Handphonenya.

Marandus Sirait mengatakan, baginya lebih penting penjagaan dan pemeliharaan hutan dan ekosistem kawasan Danau Toba dan hutan sekitarnya daripada piala yang diperolehnya.

Pemilik Taman Eden 100 ini menilai, Menteri Kehutanan dan Dinas Kehutanan Propinsi Sumut dan Dinas Kehutanan Kabupaten Toba Samosir dan 7 (tujuh) kabupaten se- Kawasan Danau Toba juga kurang serius dalam menjaga hutan, yang ironisnya oknum birokrat dinas Kehutanan justru bersembunyi di balik peraturan dalam mempermulus untuk menghabisi hutan tersebut.

Sama halnya, yang disampaikan Hasoloan Manik peraih piala Kalpataru dari Presiden tahun 2010 ini juga menunjukkan kekecewaannya terhadap pemerintah, sehingga mereka bertekad akan mengembalikan piala Kalpataru kategori penyelamat Lingkungan Hidup dari Kabupaten Dairi ini.

Ketua LSM PILIHI Kabupaten Dairi ini tampak kecewa dan geram melihat Pemerintah atas kesewenang-wenangannya melanggar peraturan dan UU untuk meraih keuntungan pribadi dan kelompoknya dari kekayaan alam di daerah Dairi dan Phakpak Barat.

Pihaknya selama ini, kata Hasoloan Manik telah bersusah payah mempertahankan hutan dan lingkungan hidup di Kabupaten Dairi dan Phakpak Barat. Kita sudah berulangkali memberikan informasi, bahkan laporan pengaduan kepada pihak terkait maupun penegak hukum, agar menindak pelaku-pelaku perusak hutan, namun sampai saat ini tidak ada yang ditindak, terangnya.

Beberapa contoh kawasan hutan yang dirusak dan kekayaan alam yang dijual di Kabupaten Dairi dan Phakpak Barat, sambung Hasoloan Manik, kawasan hutan Register 71 Sikulaping Phakpak Barat sudah habis dibabat. Sedangkan Kekayaan alam yang diduga dijual oknum dinas kehutanan yakni hutan tangkapan air kawasan danau Sicike-cike.

Kawasan hutan lindung dan tangkapan air Kabupaten Phakpak Barat yang diduga dijual ke TPL dengan pembukaan jalan tanpa izin pinjam pakai di lokasi kawasan register, tandas peraih Kalpataru dari Presiden kategori penyelamat lingkungan hidup ini.

Kekecewaan pria pecinta lingkungan hidup ini semakin bertambah yang ditenggarai sikap dan perbuatan oknum-oknum birokrat justru terlibat langsung sebagi perusak hutan di daerahnya. Kawasan hutan register 44 di Kabupaten Dairi justru diduga diperladangi oknum dinas Kehutanan Kab. Dairi. Juga adanya perambahan hutan secara ilegal yang diduga direstui oknum birokrat dinas Kehutanan Dairi, kata Hasoloan Manik.

Dengan demikian, kata Hasoloan Manik, untuk menunjukkan kekecewaan dan kekesalannya, piala Kalpataru yang diraih LSM PILIHI dari Persiden tahun 2010 lalu, akan mereka kembalikan awal Agustus ini ke Presiden RI, karena peringatan dan laporan yang disampaikan mereka selama ini tidak digubris.

Kenang-kenangan yang diterima dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga akan kami kembalikan, sebab saya lebih butuh masa depan lingkungan hidup dan ekosistem tetap terjaga dan lestari, daripada segudang bongkahan uang, emas dan berlian, tandas Hasoloan Manik kecewa.


TAGS


-

Author

Follow Me